Rabu, 11 Agustus 2010

Menjemput Asa

Berjalanlah kami
Menyusuri jeruji kesunyian rimba ini
Jalan berbatu, berliku bahkan menipu
Kami lalui....

Deru angin berhembus
Senja menjelang
Kamipun datang...

Menjemput asa yang hampir hilang
Terbangun mimpi...
Saat tersadarkan dimuka bumi
Semua tersenyum...
Ohhhh....Ciremai

Senin, 09 Agustus 2010

Perjalanan Terakhir

Kabut dingin tetap meyelimuti pinggir kawah gunung Ciremay, dan tak ada satupun dari semua pendaki yang ada disini, berkeinginan untuk beranjak dari peraduannya dan lebih memilih untuk meneruskan mimpi mereka yang pada kenyataannya hanyalah bunga tidur semata. Walaupun pendakian ini adalah ketiga kalinya aku kesini tapi entah kenapa pagi ini terasa sangat berbeda bagiku, berbeda dari setiap pagi sebelumnya, dan dari tiap gunung yang berbeda yang pernah kudaki.
Terkadang hal-hal yang tidak rasional,muncul dalam pikiranku, pemikiran yang tidak didasari oleh akal sehat. Namun dalam hening yang terasa aku teringat setiap kata-kata yang pernah diucapkan oleh seorang pendaki gunung, beliau berkata, “Gunung bukanlah sebuah tempat pelarian bagi orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan kehidupannya sebagai manusia. Melainkan sebgai tempat agar manusia bisa lebih mengenal setiap makhluk ciptaan Tuhan dan mencoba untuk mencintainya sebagaimana cinta yang telah diberikan oleh alam terhadap manusia”. Perasaan ini selau menghantuiku saat ini, saat ini aku memang sedang merasa dalam tekanan yang sangat depresif. Walaupun menurut sebagian orang saat ini aku sedang larut dalam perasaan yang terlalu hiperbolis tapi alasasn yang sesungguhnya bukan hanya karena hal itu. Beratnya kenyataan yang harus dihadapi menjadikan beban mental yang sangat berat untuk dihadapi.
Menurutku gunung Ciremay adalah gunung yang sangat bersahabat . Tapi kenapa hari ini sepertinya sedikit sinis kepadaku. Mungkin saja ini adalah suatu teguran yang harus secepatnya aku sadari dan aku pahami .
Kalau dunia ingin mengatakan sesuatu lewat bahasa alam, tentunya hanya ada sedikit manusia yang mengerti artinya. Saat ini yang kurasakan adalah bisunya alam yang seperti ingin marah tapi ada rasa segan untuk meluapkannya.
Pagi ini tak kulihat ada burung yang bertengger di ranting pohon cantigi seperti pagi-pagi sebelumnya. Hingga hari ini sudah tiga hari aku disini, entah kenapa baru hari ini aku merasa bosan dengan semua yang ada, apakah hal ini juga dirasakan oleh semuanya??? Sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab karena memang tak akan pernah ada jawabannya…
Jam 10 nanti, setelah semua persiapan telah selesai, aku putuskan untuk turun ke base camp, mungkin sudah saatnya aku untuk turun dan melihat keadaan yang sebenarnya terjadi. Sepertinya banyak realitas yang aku tinggalkan selama aku disini.
Jarum jam akhirnya menunjukan angka 10, inilah saatnya untuk turun gunung dan aku memilih jalur punggungan yang berbeda dengan yang aku lalui saat aku naik ke puncak gunung, entah apa yang aku pikirkan saat ini hingga aku memilih jalan yang berbeda. Tapi aku tetap berkeyakinan bahwa jalan yang kupilih adalah benar.
Lama sekali aku berjalan menyusuri punggungan yang satu ini. Aku sudah berpikiran yang tidak-tidak, apa mungkin aku tersesat? Tapi rasanya tidak, karena aku berjalan pada arah yang benar walaupun saat ini tidak ada satupun alat navigasi darat yang aku bawa. Aku hanya berpatokan dengan arah matahari, saat mendaki aku berjalan kearah timur maka untuk pulang aku harus berjalan kearah barat.
Hutan – hutan tampak menjadi suram dan seperti tidak bersuara untuk mengatakan yang sebenarnya. Waktu terus maju dan tak ingin berhenti walaupun untuk sesaat saja. Makin lama makin bingung aku dibuatnya, Karena jalan yang kulalui tidak menunjukan tanda - tanda bahwa aku tersesat, semua yang ada di hutan ini terlihat seperti biasanya. Pohon Edelweis tetap ada di sekitar puncak gunung, udara gunung tetap menusuk tulang, kawah gunung tetap mengepulkan asap belerang dan yang kulihat memang tidak ada yang salah walaupun secara “fisik”.
Matahari tak lagi seterang dua jam yang lalu, karena memang saat ini sudah jam 7 malam dan aku belum sampai juga di base camp, tapi masih saja aku yakin bahwa aku tidak tersesat. Tenagaku mulai terkikis maka kuputuskan untuk mendirirkan tenda disini saja dan meneruskan perjalanan besok pagi.
Seperti halnya pagi tadi, malam inipun tersasa amat membosankan. Mungkin karena aku sendirian di hutan gelap ini, tanpa satu orang kawan pun. Bukan salah mereka aku berada disini tapi karena aku yang merasa bosan dengan apa yang ada di sekitarku, maka aku putuskan untuk melakukan pendakian ini seorang diri.
Kebosanan ini semakin menjadi-jadi disaat api unggun yang aku nyalakan terlihat makin redup dan tak akan lama lagi padam. Binatang malampun tak datang mengunjungiku seperti biasanya. Yang ada hanya angin malam yang terasa semakin menusuk saja., yang semakin lama kurasakan malah semakin dingin. Bintang-bintang yang biasanya muncul di musim ini, kenapa malam ini juga tak datang. Kemana saja mereka???? Apakah mereka juga sudah menganggapku tidak ada….
Biar sajalah… biar semua ini menjadi konsekuensi yang memang harus aku tanggung sendiri, dan tanpa melibatkan siapapun. Menjadi sendiri bukanlah seuatu yang harus disesali, mungkin saja ini memang jalan yang harus kulalui karena ini bukanlah suatu takdir tapi hanyalah suatu pilihan. Pilihan yang sudah kupilih dan aku sadari akibatnya. Bukannya aku frustasi dengan “mereka-mereka” yang telah aku anggap sebagai bagian dari masa lalu. Masa lalu yang indah sekaligus mengecewakan tapi tetap harus disyukuri sebagai suatu hikmah agar aku bisa belajar dari semua yang pernah aku perbuat.

Malam semakin larut, Sisa makananpun sudah tidak ada, yang ada hanyalah sisa air yang tinggal setengah botol. Entah sampai kapan aku bisa bertahan jika keadaannya terus begini. Semakin kupikirkan semakin lelah saja aku jadinya, Perlahan-lahan mataku terpejam juga karena memang sudah saatnya aku untuk istirahat dan menyiapkan tenaga untuk besok. Karena kuykin besok bisa menjadi hari yang panjang. Akhirnya kudengar juga nyanyian burung malam yang kasihan terhadapku dan menyanyikan nyanyian malam untuk mengantarkan aku tidur.
Malam telah larut… dan dalam tidur yang terasa amat panjang aku terhanyut dalam mipi yang menurutku terasa amat indah, karena dalam mimpi ini aku dapat bertemu dengan seseorang yang amat kusayangi, bidadari pagi bagiku, yang sudah sangat lama tidak aku temui di dunia nyata. Entah dia masih ada dan masih ingat kepadaku atau dia memang masih ada dan sudah malupakanku… Entahlah, yang penting saat ini aku sudah bisa merasa nyaman, walaupun belum tentu aku bisa pulang dalam keadaan utuh dan masih hidup.
Saatnya aku harus mulai berkemas dan menyiapkan kembali semua perlemgkapan perjalananku. Setelah semuanya telah kembali siap. Kulanjutkan kembali perjalanan ini dengan hati yang penuh keragu-raguan. Karena pagi ini kulihat kembali hal yang sama seperti kemarin, aku seperti berada diruangan yang hampa, sepertinya aku sendirian dimuka bumi ini… Ah….mungkin ini hanya perasaan saja, hal ini tidak boleh menjadi penghalang karena kuyakin semua ini hanyalah tantangan hidup bagi seorang manusia, yang menurut persepsiku semuanya akan tetap seperti sedia kala asalkan aku bisa melewati semuanya.
Hari ini terasa berat sekali… mungkin karena kondisis fisik yang semakin melemah, pandanganku terlihat mulai kabur dan terkadang tidak bisa terlihat sama sekali untuk beberapa saat. Bahkan kakiku pun terasa amat sangat letih dan sakit sekali dan jalanku mulai pincang karena baru saja tersangkut akar pohon mahoni yang sangat besar. Langkahku pun terhenti disaat ku melihat didepanku membentang jurang yang amat lebar,mungkin sekitar 20 meteran atau mungkin bisa saja lebih dari itu. Kupikirkan sejenak, apa yang harus aku lakukan ??
kurasa ini sangat berbahaya dan sangat tinggi resikonya karena selain lebar jurang ini juga terlihat cukup dalam. Cara satu-satunya adalah menuruni jurang itu dan memanjatnya kembali disisi jurang yang lain…
Tapi…. Kalau gagal ….???? Ah.. coba sajalah mungkin saja berhasil…
Kupasang pengaman seadanya, walaupun minimal tapi kurasa ini sudah memenuhi standar. Kuturunkan ransel terlebih dahulu agar lebih mudah, Setelah itu baru aku yang turun. Menuruni jurang memang tidak begitu sulit dan juga tidak menghabiskan banyak tenaga, sehingga setidaknya aku masih punya sedikit sisa tenaga untuk memajat jurang ini di sisi yang lain, setelah sampai di dasar jurang, kusandarkan tubuhku dipinggir sebuah batu yang sangat besar untuk sedikit beristirahat…
Sekarang saatnya untuk yang paling berat. Memanjat tebing bukan keahlianku tapi mau bagaimana lagi. Sebelum memulainya aku memeriksa kembali peralatan keamanan,setelah semuanya sudah siap aku mulai memanjat sejengkal demi sejengkal. Dan…… kresek....kresek... bruggghh...Argh…!!!
Aku terjatuh dan pingsan untuk beberapa saat, ketika tersadar hujan mulai turun rintik-rintik dan tak lama kemudian menjadi deras sekali. Aku mencoba untuk bangun tapi tidak bisa, aku coba lagi dan tetap tidak bisa, kulihat banyak darah disekitarku dan setelah lama kuberbaring menahan rasa sakit saat itu aku tersadar ternyata pergelangan kakiku patah… Dan aku tak sanggup lagi untuk berjalan.
Tak kuhitung lagi jam, menit apalagi detik, yang kutahu hanyalah 3 hari sudah aku terdiam dalam posisi duduk, lemas karena darah yang telah keluar cukup banyak saat ku terjatuh 3 hari lalu, dan tak ada sedikitpun sisa minuman atau makanan dalam ranselku.
Lama kumenunggu, dalam beberapa hari ini tak ada satupun bantuan yang datang, SAR, ranger ataupun Polisi Hutan. Aku memahami dan mampu mempraktekan teknik SURVIVAL, tapi dalam keadaanku yang sekarat seperti ini aku bisa apa????
Ku makin terhanyut dalam kesunyian, dalam diamku, ku memohon pada-Nya “Wahai Tuhan kalau memang aku harus berkahir ditempat ini, aku ikhlas ya Tuhan, karena aku memang milikMu, apapun yang kau takdirkan kepadaku kuyakin itu adalah yang tebaik bagiku….Dan aku mohon agar Engkau menjaga jasadku hingga aku ditemukan oleh seseorang dan jasadku dapat dimakamkan selayaknya orang-orang yang telah mati.

Pesan Untuk Penghuni Bumi

Kalau kita mengerti kenapa matahari selalu terbit untuk menyinari bumi dan bumi selalu membutuhkan matahari, tentunya kita akan menyadari bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang mampu untuk berdiri sendiri, akan selalu ada saling ketergantungan akan sesuatu, apapun itu. Dari yang pernah kita lakukan, apakah kita mengerti, apakah segala sesuatu yang telah kita lakukan adalah benar ataukah salah, dan apakah kita pernah menyesali apa yang pernah kita perbuat jika kita tahu bahwa apa yang telah kita lakukan adalah salah.
Laut tetap biru dan rasanya masih asin, air masih mengalair dari tempat yang tinggi menuju tempat yang lebih rendah, jadi apa yang telah salah? Mungkinkah Manusialah yang salah dan manusialah yang telah berubah, keserakahan telah mengambil apa yang telah menjadi hak dari penghuni bumi yang lain, kenapa manusia tidak pernah mengerti bahwa mereka tidak tinggal sendirian dan kenapa mereka tidak pernah punya rasa untuk bisa memahami tentang keadaan sekitarnya. Apakah manusia belum menyadari atas apa yang telah mereka perbuat akan merubah segalanya.
Bumi telah berubah, semuanya telah berubah akibat perubahan yang telah dilakukan oleh manusia. Bumi telah terasa tidak nyaman lagi untuk disinggahi, tapi tdak ada pilihan lain, bumi akan tetap menjadi tempat tinggal bagi manusia dan penghuninya yang lain karena tidak mungkin ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat tinggal selain bumi, dan kalau memang tidak ada lagi tempat lain yang bisa dijadikan tempat tinggal bagi manusia selain bumi, apa yang akan dilakukan manusia untuk menjadikan bumi bisa senyaman dahulu, seharmonis dahulu dan seindah dahulu.
Penebangan hutan terus terjadi, penggunaan aerosol dan gas berbahaya lainnya masih dilakukan, emisi kendaraan bermotor terus bertambah, gedung-gedung pencakar langit semakin banyak berdiri, penggunaan bahan bakar fosil yang terus meningkat, reklamasi pantai terus berlanjut. Semuanya telah memberikan dampak yang buruk bagi bumi. Dimana akal sehat manusia berada, dimanakah manusia yang berakal sehat berada.???
Udara semakin panas, bencana alam terjadi diberbagai belahan bumi, kestabilan ekosistem terganggu, permukaan air laut telah meninggi dan kalau ini terus terjadi kemungkinan besar seluruh daratan yang ada di muka bumi akan tenggelam maka ini bisa menjadi akhir sejarah manusia di bumi. “Pemanasan Global” itulah yang terjadi disaat keadaan bumi menjadi sangat kritis, dan kalimat seperti inilah yang saat ini selalu dibicarakan oleh seluruh umat manusia, tapi apakah hal ini hanya akan tetap menjadi sebuah wacana tanpa ada jalan penyelesaiannya.
Berbagai pertemuan telah dilakukan oleh berbagai pemimpin dunia dari berbagai Negara, semuanya berkeinginan untuk menjadikan bumi menjadi lebih baik. Seluruh pertemuan itu membahas berbagai cara menanggulangi pemanasan global dengan cara yang paling relevan dan realisistis, agar seluruh lapisan manusia dari berbagai dunia mampu untuk berkontribusi dalam menjaga bumi ini.
Dengarkanlah apa yang telah pesan yang disampaikan bumi kepada penghuninya, bumi telah bicara dengan bahasa alam tentang apa yang tengah dirasakannya, tinggalah kini manusia untuk bertindak menyelesaikan permasalahan ini karena sudah menjadi takdir manusia untuk menjadi pemimpin di muka bumi dan hanya manusialah makhluk paling berakal yang tinggal di muka bumi, semua belum terlambat, masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya. Lakukan perbaikan sekarang, jangan sampai hidup manusia berakhir ditangan manusia sendiri. Ingatlah bahwa seluruh manusia hanya memiliki satu bumi jagalah bumi sebagaimana bumi telah menjaga manusia dan rela untuk menjadi tempat tinggal bagi manusia.

Selasa, 03 Agustus 2010

PENDAKI TERAKHIR

Kabut malam mulai menyelimuti
Langkahku tak surut
Dan akupun tak takut
Walau aku lelah........

Dalam senyap ku terus melangkah
Bergulat dengan waktu
Bertarung dengan dingin
Angin Mahameru.......

Sinar bulan menerangi jalanku
Aku harus tetap berdiri
karena akuah pendaki terakhir.......

Berusaha tegak diatas pasir....
Menatap cakrawala dunia....
Hingga senyum sang mentari kembali ada.....

Karena akulah pendaki terakhir......





Dedicated for Jonatan G
Becase he is The Last Climber of Mt. Mahameru on July, 31st 2010

Selasa, 27 Juli 2010

Kenyataan

Sebuah perubahan itu memang perlu, tapi seperti apa perubahan yang diperlukan, merupakan hal tang sering terlupakan. Nilai - nilai dari perubahan itu terkadang sangat tidak sesuai dengan kenyataan, bahkan lari menjauh dari kenyataan. Seperti berpura - pura dalam kehidupan, dan tidak menerima apa yang ditentukan. Hal tersebut bukan merupakan sebuah kesalahan, akan tetapi sebuah sifat lahiriah manusia, yaitu MANUSIAWI.